“Ingat, jangan pernah datang lagi!” kata seorang wanita
dengan nada keras kepada Norman.
Norman tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi wanita
itu sudah membalikkan badannya lalu meninggalkan Norman. Norman berdiri
mematung.
Aku mendekatinya lalu menepuk pundaknya. Norman
memanyunkan bibirnya.
“Ayo masuk,” Norman masuk ke dalam rumah. Aku
mengikutinya.
“Itu tadi adikmu, bukan?” tanyaku sambil
menyelonjorkan kaki di depan TV.
“Iya. Dan dia baru saja mendepakku,” Norman membuka
kulkas, mengeluarkan tiga minuman kaleng, lalu menyodorkannya padaku.
“Apa yang kamu lakukan sampai dia mendepakmu?” aku
membuka kaleng minuman di tanganku.
“Aku meminta ibu tinggal bersamaku.”
Jawaban Norman membuatku mengerutkan kening. Aku
memandangnya dan dia mengerti apa yang ingin kutanyakan.
“Kalian tahu aku jarang menghubungi keluargaku kan?
Aku menghargai kalian yang tidak pernah mengguruiku soal itu. Aku juga
menghargai bagaimana kalian tidak banyak bertanya kecuali jika aku bercerita.
Sekarang, aku akan menceritakan semuanya padamu,” Norman memperbaiki duduknya.