Showing posts with label Serial. Show all posts
Showing posts with label Serial. Show all posts

Thursday, 1 February 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian 3 Anak yang Tidak Diharapkan

“Ingat, jangan pernah datang lagi!” kata seorang wanita dengan nada keras kepada Norman.
Norman tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi wanita itu sudah membalikkan badannya lalu meninggalkan Norman. Norman berdiri mematung.
Aku mendekatinya lalu menepuk pundaknya. Norman memanyunkan bibirnya.
“Ayo masuk,” Norman masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.
“Itu tadi adikmu, bukan?” tanyaku sambil menyelonjorkan kaki di depan TV.
“Iya. Dan dia baru saja mendepakku,” Norman membuka kulkas, mengeluarkan tiga minuman kaleng, lalu menyodorkannya padaku.
“Apa yang kamu lakukan sampai dia mendepakmu?” aku membuka kaleng minuman di tanganku.
“Aku meminta ibu tinggal bersamaku.”
Jawaban Norman membuatku mengerutkan kening. Aku memandangnya dan dia mengerti apa yang ingin kutanyakan.
“Kalian tahu aku jarang menghubungi keluargaku kan? Aku menghargai kalian yang tidak pernah mengguruiku soal itu. Aku juga menghargai bagaimana kalian tidak banyak bertanya kecuali jika aku bercerita. Sekarang, aku akan menceritakan semuanya padamu,” Norman memperbaiki duduknya.

Monday, 29 January 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian 2 Anak Laki-laki yang Kembali

“Ini, makanlah,” Gama menyodorkan sepotong roti. “Norman sudah menceritakan semua padaku. Aku yakin kamu belum sarapan. Tunggu di situ, aku harus memandikan ayahku,” Gama masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku menggigit roti yang ternyata berisi pisang cokelat sambil merencanakan sesuatu untuk Norman karena telah menceritakan kondisiku pada Gama. Tetapi aku tidak menemukan rencana apapun sampai rotiku habis dan Gama sudah berdiri di depanku.
“Ayo,” ajak Gama.
Kami berjalan menuju halte terdekat. Rencana hari ini adalah ke pasar. Dia memintaku menemaninya karena persiapan kalau membutuhkan bantuan membawa belanjaan. Alasan yang membuatku sempat menolak tetapi dia berjanji akan menraktir makan siang dan makan malam. Aku langsung berubah pikiran dan bersedia menjadi apa pun hari ini, bahkan jika harus menjadi tukang angkut barang.
“Kana,” Gama memanggilku lirih setelah kami duduk di dalam bus.
“Ya,” aku menjawab tanpa memalingkan pandanganku dari hp di tanganku.
“Apa kamu akan menyalahkanku?”
“Haa?” aku memandang Gama.
Gama menghela napas. “Apa kamu akan menyesali keputusanku?”
“Keputusan?” aku masih memandang Gama.
“Meninggalkan pekerjaanku,” Gama tampak menunggu jawabanku.
“Kamu bahkan belum bercerita apapun padaku,” aku memanyunkan bibir.
Gama tersenyum, “bukankah orang mudah membuat kesimpulan tanpa mendengar cerita yang sebenarnya?”

Saturday, 27 January 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian 1 Anak Perempuan di Perantauan

Aku mengetuk pintu rumah Kana berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya dia serius tidak ingin menerima tamu. Aku mengambil hp, mencari nomor Kana. Kana menjawab telepon pada nada sambung ketiga.
“Halo,” jawab Kana dari seberang telepon.
“Kamu di mana?” tanyaku agak kesal.
“Di taman.”
“Aku di rumahmu.”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak di rumah,” nada suara Kana terdengar datar.
“Kupikir itu hanya alasanmu untuk tidak menerima tamu.”
“Jadi kamu berpikir aku berbohong?” nada suara Kana masih datar.
“Di taman mana?” aku bertanya tanpa memedulikan pertanyaannya.
“Tempat biasa,” Kana masih menjawab dengan datar.
Aku menutup telepon dan bergegas menuju taman di belakang komplek perkantoran pemerintah kota. Tidak sulit menemukan Kana di antara orang-orang. Hanya dia yang tanpa canggung duduk sendirian di antara para pasangan di taman mana pun di kota ini.
Kana tampak berkonsentrasi penuh pada sketsa di tangannya. Beberapa pensil berserakan di dekat kakinya dan beberapa lagi menggelinding ke rerumputan.
“Ini,” aku menyodorkan bungkusan di tanganku lalu duduk di sampingnya. Aku memunguti pensil dari rerumputan dan mengumpulkannya dengan pensil lain di samping Kana.
Kana meletakkan buku sketsa lalu membuka bungkusan dariku. Dengan wajah sumringah, dia memandangku beberapa detik, “terima kasih makanannya.”
Aku menjitak kening Kana, yang dijitak hanya menringis sambil mengusap kening.
“Kana, ada yang ingin kutanyakan,” aku memandang Kana serius.
“Tanyakan saja,” Kana mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.