Showing posts with label Bukan Puisi. Show all posts
Showing posts with label Bukan Puisi. Show all posts

Saturday, 11 January 2014

Ya, Ini Rindu

Danau Kerinci
Prov Jambi
Dan malam suram pun berlalu, ketika bongkahan kemarahan mencair. Yaitu ketika kamu menghangatkannya dengan caramu. Dengan tak pernah berhenti memeluknya meskipun tak ada kenyamanan bagimu. Tapi itulah kamu, merangkul yang tak mudah, menjadikannya milikmu dengan mudah.
Ya, sekarang rasa ini milikmu.

Rindu.

Ya, aku yakin ini rindu. Rindu sebenar rindu. Karena aku merasa hidup.


Tuesday, 11 December 2012

Menunggu Apa

di antara kita hanya ada sepotong jalan
yang tak memiliki pemisah
seharusnya kita dapat melaluinya
dengan mudah
dengan tanpa kesulitan
tapi mengapa masih saja ada alasan
untuk menunda
untuk tetap diam
menunggu
tapi menunggu apa
 
sementara jalan itu tak pernah menunggu kita
jalan itu tak pernah memotong dirinya
tak pernah
membantu kita lebih dekat
tak pernah
membiarkan kita saling melihat
hanya
membiarkan kita di sini saja
masih diam
masih menunda
tak pernah tahu menunggu apa
 
 

Friday, 16 November 2012

Di Ketinggian Ini Aku Bersaksi

Bukit Kayangan, Kab Kerinci, Prov jambi
Lagi-lagi aku ada di ketinggian, dan semua yang pernah kurasakan terulang. Aku ingin menerbangkan semua rasa yang mencekam, yang mengungkungku cukup lama dalam kebingungan, ketakutan, kekhawatiran berlebihan.

Ya, aku khawatir tidak akan sanggup menjalani hidup ini dengan kebaikan. Aku khawatir terlalu banyak kesia-siaan yang kulakukan. Aku terlalu khawatir terpenjara oleh satu rasa yang pada akhirnya aku yakin akan kulupakan, seperti sebelumnya. Yang pada akhirnya aku bisa tersenyum dan berkata, ‘inilah pendewasaan’.

Bahkan ada yang kuhapus dan kutertawakan, ‘betapa bodohnya aku muda’. 

Di ketinggian ini, lagi-lagi aku bersaksi, seharusnya cinta yang paling besar hanya untuk Allah, berharap paling besar hanya kepada Allah, dan kekhawatiran terbesar hanya khawatir tidak dipedulikan oleh Allah.

Tuesday, 6 November 2012

Selamat Pagi

Agam, Sumatera Barat
Mungkin terlalu pagi untuk mengucap ini, tapi aku ingin merasakan semangat pagi. Aku ingin menjalani pagi yang segar seperti kebanyakan orang. Mereka yang mendapat harapan baru dari matahari yang memberikan kehangatan baru. Dan kesejukan saat titik-titik embun terbawa angin, semilir.

Seharusnya pagi pun indah bagiku, tapi tidak. Aku pecinta fajar, jauh sebelum pagi datang. Jauh sebelum matahari bertandang, menghangatkan dunia yang lembab semalaman. Membasuh semangatku yang menguap bersama embun dan kesejukan fajar.

Bukan berarti aku tak suka kehangatan. Aku hanya lelah pada benderang yang seharusnya membawa kebahagiaan tapi masih kulihat ribuan tetes air mata kesedihan. Kesedihan yang tak terbaca saat fajar karena mereka masih terlelap dalam mimpi-mimpi bahagia. Ya, aku memilihnya seperti itu saja.

Tuesday, 15 December 2009

Bukit Tawa

Masih di bukit yang sama, tempat kita dulu sering bercengkerama. Untuk melepas penat, menikmati langit, memuji keindahan bulan, dan membaca rasi bintang dengan cara yang berbeda. Waktu itu kita hanya tahu satu rasi bintang, hanya "gubuk penceng".

Masih dapat kurasakan getar kebahagian kita, masih dapat kudengar renyah tawa kita, masih dapat kulihat binar ceria kita.

Sungguh terasa sama. Aku berdiri di sini, memandang bayangan kita, duduk berbaris, berebut posisi paling dekat dengan pohon kelapa. Pohon itu menjadi sandaran kelelahan kita, saksi masa lalu kita.

Di bukit ini juga kita berpisah, bertukar khayalan tentang masa depan. Berjanji untuk berlomba meraih impian-impian kita. Berharap dengan indahnya, agar semua selalu berakhir dengan tawa.

Kita selalu berjanji untuk tidak meneteskan air mata, apalagi menyumpahi dunia. Tidak. Itu bukan diri kita. Karena bukit ini bukit tawa, bukit yang ceria.

Aku masih di bukit ini, mengenang saat kita masih di sini, berharap waktu bisa diputar kembali. Di bukit tawa ini, kutitipkan semua rindu di hati.

Monday, 19 October 2009

Bisik Hati

Masih teringat dulu, pertama kali bertemu denganmu. Aku begitu terkesan pada kalimat puitismu, membuatku begitu termangu.

Aku hanya diam memandangmu, menikmati kejujuranmu. Betapa indah mendengar setiap kata dari bibirmu.

Lalu dia datang, membuyarkan setiap detil perasaanku padamu. Merusak hamparan harapan yang kurajut satu demi satu.

Mereka mengambilmu dan aku hanya mampu terpaku. Menunduk, mengutuk tiap senti kepengecutanku.

Aku masih di sini, berharap mereka kembali, membawamu hadir, mengisi kekosongan hati, menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti.

Kalau kau tak pernah kembali, pada siapa harus kutitipkan perasaan ini.

Sunday, 18 October 2009

Masih Tetap Sama

Akhirnya, sampai juga pada bagian ini. Bagian yang sudah kita tahu sejak awal. Bagian yang seharusnya sudah kita persiapkan sebelumnya. Perpisahan.

Tapi apalah gunanya bertanya-tanya, apa, mengapa, bagaimana, sanggupkah, hidup tanpa kamu dan mereka? Tak akan mengubah segalanya.

Lagipula kita masih berada di bumi yang sama. Kita masih menginjak tanah yang sama. Kita masih menghirup udara yang sama.

Kita tetap dalam pelukan dingin yang sama. Kita tetap mendapat tamparan panas yang sama. Kita pun tetap dalam belaian angin yang sama.

Kita pun masih memandang bulan yang sama, seperti yang selalu kau ucapkan.