Thursday, 20 September 2018

Bagimu, Aku Orang yang Sama Tetapi di Dalam Sini, Aku Serpihan tak Bernyawa

Semenjak ibuku kehilangan suaranya, separuh hatiku remuk. Seolah sebagian duniaku runtuh ke dalam lubang hitam. Tak bertuan. Napas terakhirnya membuat sebagian sisanya jatuh terbanting hingga berkeping. Rupa akhirnya hanya serpihan-serpihan tak bernyawa, tak memiliki rasa. Bahkan ketika air mataku menguras dirinya sendiri, aku hanya bisa merasakan sesak. Aku tidak merasakan kehilangan. Hanya penyesalan.

Berbagai pertanyaan bergelayutan, "apakah aku yang membunuhnya? Apakah aku yang membuatnya meminta kematiannya? Apakah aku yang membuatnya menyesali keberadaannya?"

Ambisiku memudar seketika. Cita-citaku menyublim bersama idealisme-idealisme yang kubangun untuk membuatnya bangga. Sisa idealisme yang separuhnya telah menyublim sebelas tahun lalu setelah kehilangan bapak.

Aku masih sama. Masih menikmati dunia, masih bercanda, masih bisa membuatmu tertawa. Di luar. Di luarnya saja. Di dalamnya, aku serpihan tak bernyawa. Tak memiliki rasa. Semuanya hampa. Aku tidak berharap apa-apa lagi tentang dunia. Kubiarkan saja langkahku seadanya.

Aku hanya berharap, doaku sampai pada mereka. Itu saja.

Thursday, 1 February 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian (3/3) Anak yang Tidak Diharapkan

“Ingat, jangan pernah datang lagi!” kata seorang wanita dengan nada keras kepada Norman.
Norman tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi wanita itu sudah membalikkan badannya lalu meninggalkan Norman. Norman berdiri mematung.
Aku mendekatinya lalu menepuk pundaknya. Norman memanyunkan bibirnya.
“Ayo masuk,” Norman masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.
“Itu tadi adikmu, bukan?” tanyaku sambil menyelonjorkan kaki di depan TV.
“Iya. Dan dia baru saja mendepakku,” Norman membuka kulkas, mengeluarkan tiga minuman kaleng, lalu menyodorkannya padaku.
“Apa yang kamu lakukan sampai dia mendepakmu?” aku membuka kaleng minuman di tanganku.
“Aku meminta ibu tinggal bersamaku.”
Jawaban Norman membuatku mengerutkan kening. Aku memandangnya dan dia mengerti apa yang ingin kutanyakan.
“Kalian tahu aku jarang menghubungi keluargaku kan? Aku menghargai kalian yang tidak pernah mengguruiku soal itu. Aku juga menghargai bagaimana kalian tidak banyak bertanya kecuali jika aku bercerita. Sekarang, aku akan menceritakan semuanya padamu,” Norman memperbaiki duduknya.

Monday, 29 January 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian (2/3) Anak Laki-laki yang Kembali

“Ini, makanlah,” Gama menyodorkan sepotong roti. “Norman sudah menceritakan semua padaku. Aku yakin kamu belum sarapan. Tunggu di situ, aku harus memandikan ayahku,” Gama masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku menggigit roti yang ternyata berisi pisang cokelat sambil merencanakan sesuatu untuk Norman karena telah menceritakan kondisiku pada Gama. Tetapi aku tidak menemukan rencana apapun sampai rotiku habis dan Gama sudah berdiri di depanku.
“Ayo,” ajak Gama.
Kami berjalan menuju halte terdekat. Rencana hari ini adalah ke pasar. Dia memintaku menemaninya karena persiapan kalau membutuhkan bantuan membawa belanjaan. Alasan yang membuatku sempat menolak tetapi dia berjanji akan menraktir makan siang dan makan malam. Aku langsung berubah pikiran dan bersedia menjadi apa pun hari ini, bahkan jika harus menjadi tukang angkut barang.
“Kana,” Gama memanggilku lirih setelah kami duduk di dalam bus.
“Ya,” aku menjawab tanpa memalingkan pandanganku dari hp di tanganku.
“Apa kamu akan menyalahkanku?”
“Haa?” aku memandang Gama.
Gama menghela napas. “Apa kamu akan menyesali keputusanku?”
“Keputusan?” aku masih memandang Gama.
“Meninggalkan pekerjaanku,” Gama tampak menunggu jawabanku.
“Kamu bahkan belum bercerita apapun padaku,” aku memanyunkan bibir.
Gama tersenyum, “bukankah orang mudah membuat kesimpulan tanpa mendengar cerita yang sebenarnya?”

Saturday, 27 January 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian (1/3) Anak Perempuan di Perantauan

Aku mengetuk pintu rumah Kana berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya dia serius tidak ingin menerima tamu. Aku mengambil hp, mencari nomor Kana. Kana menjawab telepon pada nada sambung ketiga.
“Halo,” jawab Kana dari seberang telepon.
“Kamu di mana?” tanyaku agak kesal.
“Di taman.”
“Aku di rumahmu.”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak di rumah,” nada suara Kana terdengar datar.
“Kupikir itu hanya alasanmu untuk tidak menerima tamu.”
“Jadi kamu berpikir aku berbohong?” nada suara Kana masih datar.
“Di taman mana?” aku bertanya tanpa memedulikan pertanyaannya.
“Tempat biasa,” Kana masih menjawab dengan datar.
Aku menutup telepon dan bergegas menuju taman di belakang komplek perkantoran pemerintah kota. Tidak sulit menemukan Kana di antara orang-orang. Hanya dia yang tanpa canggung duduk sendirian di antara para pasangan di taman mana pun di kota ini.
Kana tampak berkonsentrasi penuh pada sketsa di tangannya. Beberapa pensil berserakan di dekat kakinya dan beberapa lagi menggelinding ke rerumputan.
“Ini,” aku menyodorkan bungkusan di tanganku lalu duduk di sampingnya. Aku memunguti pensil dari rerumputan dan mengumpulkannya dengan pensil lain di samping Kana.
Kana meletakkan buku sketsa lalu membuka bungkusan dariku. Dengan wajah sumringah, dia memandangku beberapa detik, “terima kasih makanannya.”
Aku menjitak kening Kana, yang dijitak hanya menringis sambil mengusap kening.
“Kana, ada yang ingin kutanyakan,” aku memandang Kana serius.
“Tanyakan saja,” Kana mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Wednesday, 10 May 2017

Mengapa Mereka Terus Saja Saling Menyebar Keburukan?

Saya mulai muak dengan berbagai berita dengan istilah intoleransi beragama. Semua berawal dari pilkada yang melibatkan dua calon yang berbeda agama. Tak usahlah saya berkode-kodean, semua orang tahu, tentang Ahok dan Anies. Saya tidak berhak berbicara tentang mereka karena saya tidak memiliki hak pilih di Jakarta. Lagipula, saya juga tidak ingin membahas tentang mereka. Saya hanya bingung dengan orang-orang berbagai berita dan status yang ‘beterbangan’ di ‘awan’.

Saya memiliki banyak teman yang beragama Islam dan banyak juga yang beragama selain Islam. Saya tidak mengetik agama-agama itu bukan karena saya tidak suka, melainkan saya hanya tidak ingin tulisan ini seperti mata pelajaran SD yang menyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia. Apalagi kalau tiba-tiba ada tantangan menghafalkan Pancasila untuk mendapatkan hadiah sertifikat rumah, saya tidak akan mengetiknya di sini. Bukan karena saya tidak menghargai Pancasila melainkan saya tidak ingin ada tulisan mata pelajaran apa pun. Saya hanya ingin tulisan-tulisan saya murni curhat. Ah, sudahlah, kembali ke permasalahan saya.

Ada salah satu grup WA yang berisi ‘teman-teman’ baru, pada awalnya, grup itu membahas tentang prestasi mereka di bidang seni, hafalan Al-Qur’an, organisasi kemanusiaan, dan berbagai kegiatan sosial. Tetapi lama-kelamaan, grup itu mulai membahas tentang kebencian kepada salah satu calon peserta pilkada. Saya langsung keluar dari grup.

Saturday, 6 May 2017

Manusia Memang Makhluk yang Kompleks

Aku tidak mengerti. Beberapa waktu lalu, seseorang bisa sangat tidak peduli pada lingkungannya, pekerjaannya, bahkan tentang apa pendapat orang tentangnya. Tapi di waktu tertentu, seseorang itu bisa sangat peduli terhadap hal-hal kecil, bahkan bisa berusaha keras yang membuatnya menjadi sosok lain yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Aku juga melihat bagaimana orang terus-menerus mengeluhkan pekerjaannya tetapi tidak melakukan apa pun untuk mencari pekerjaan lain. Tetapi aku juga melihat saat ketika orang itu membanggakan pekerjaannya sedemikian rupa seolah pencapaiannya luar biasa. Apa itu? Mengeluh tetapi juga bangga? Yang benar saja.

Semakin aku tidak mengerti ketika manusia mulai membandingkan status dengan pekerjaan. Lajang, menikah dengan anak, dan menikah belum memiliki anak. Kalimat-kalimat seperti, ‘kamu kan single, lembur ga pa pa, kamu kan belum punya anak, gak ada yang ngerecokin kalo kerja di rumah,’ dan kalimat semacamnya. Seolah, cara bekerja seseorang ditentukan oleh statusnya. Padahal yang aku tahu, status dan pekerjaan, tidak boleh dicampuradukkan. Seandainya dalam pekerjaan ada toleransi-toleransi semacam itu, maka aku pun menginginkan toleransi yang besar. Tetapi aku memilih menutupnya. Kehidupan pribadiku hanyalah untukku, tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Selama aku masih bisa berjuang, aku tidak akan meminta apa pun.

Thursday, 23 March 2017

Perempuan Sekolah Tinggi untuk Apa? Ujungnya Masuk Dapur Juga


Perempuan buat apa sekolah tinggi-tinggi? Ntar ujungnya masuk dapur juga.

Dulu, bapakku mengatakan ini menjelang aku lulus SMA. Dulu, ibuku terbakar hatinya karena kalimat ini. Aku, yang waktu itu paham benar akan situasi, hanya bisa diam. Memaksakan sekolah lagi, tak ada biaya. Berhenti dan bekerja, tetapi seseorang berkata, “kamu boleh saja bekerja dulu sambil menabung buat kuliah. Tapi aku khawatir kamu akan terlalu menikmati bekerja trus akhirnya lupa untuk kuliah lagi. Aku sudah pernah melihat hal itu, saudaraku sendiri.” Waktu itu aku menjawab, aku berjanji tidak akan lupa untuk kuliah lagi.

Mengapa aku sedemikian ingin sekolah lagi? Ketika dari kalimatnya, bapakku tidak merestui sementara ibuku juga tidak bisa membantu apa-apa. Tentu saja aku tidak lupa akan posisi ibuku yang menjadi pembantu rumah tangga dan bapakku yang bekerja serabutan. Tetapi bapakku tidak jahat. Tidak. Kalimatnya itu hanya untuk menutupi ketidakmampuannya dalam membantuku kuliah.

Aku sudah sering melihat seseorang yang marah bukan karena kebenciannya kepada sesuatu atau seseorang melainkan seseorang itu marah karena kebenciannya pada ketidakmampuannya mencapai sesuatu. Aku tahu bapakku ingin aku sekolah tinggi tetapi beliau tidak bisa membantu sehingga itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri. Karena kesal, tidak mampu, marah pada diri sendiri, tidak tahu harus berbuat apa, emosinya menjadi tidak stabil sehingga kata-kata yang keluar adalah tentang sekolah yang tidak penting untuk seorang perempuan.