Thursday, 1 February 2018

Anak-anak Perbatasan Langit: Bagian (3/3) Anak yang Tidak Diharapkan

“Ingat, jangan pernah datang lagi!” kata seorang wanita dengan nada keras kepada Norman.
Norman tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi wanita itu sudah membalikkan badannya lalu meninggalkan Norman. Norman berdiri mematung.
Aku mendekatinya lalu menepuk pundaknya. Norman memanyunkan bibirnya.
“Ayo masuk,” Norman masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya.
“Itu tadi adikmu, bukan?” tanyaku sambil menyelonjorkan kaki di depan TV.
“Iya. Dan dia baru saja mendepakku,” Norman membuka kulkas, mengeluarkan tiga minuman kaleng, lalu menyodorkannya padaku.
“Apa yang kamu lakukan sampai dia mendepakmu?” aku membuka kaleng minuman di tanganku.
“Aku meminta ibu tinggal bersamaku.”
Jawaban Norman membuatku mengerutkan kening. Aku memandangnya dan dia mengerti apa yang ingin kutanyakan.
“Kalian tahu aku jarang menghubungi keluargaku kan? Aku menghargai kalian yang tidak pernah mengguruiku soal itu. Aku juga menghargai bagaimana kalian tidak banyak bertanya kecuali jika aku bercerita. Sekarang, aku akan menceritakan semuanya padamu,” Norman memperbaiki duduknya.
Kurasa aku akan mendapatkan semua jawaban tentang pertanyaanku selama ini. Tentang mengapa Norman hampir tidak pernah pulang dan tentang dia yang harus bekerja lebih keras daripada anak-anak lain ketika di bangku kuliah.
“Dulu, aku meninggalkan rumah karena tidak ada yang setuju aku kuliah. Mereka tidak memiliki biaya. Mereka tidak sanggup membiayai kuliahku. Jadi, aku pergi tanpa izin. Aku mendaftar kuliah, mencari beasiswa, dan mencari pekerjaan. Karena sibuk bekerja, aku tidak pernah bisa pulang bahkan di hari libur sekalipun. Aku takut kalau meminta izin, mereka akan menggantikanku dengan orang lain dan hilanglah penghasilanku,” Norman berhenti sejenak, meminum beberapa teguk sari buah.
“Aku baru pulang menjelang wisuda,” Norman melanjutkan, “adikku marah dan mengusirku bahkan sebelum aku memasuki pintu rumah. Dia marah karena aku tidak pulang sehari pun ketika ayah dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Aku juga tidak pulang ketika ayah meninggal dan tidak pernah sekali pun datang ke pemakaman. Adikku yang mengurus semuanya, merawat ayah lalu merawat ibu yang sempat sakit setelah kepergian ayah.”
“Bukankah kamu beberapa kali pulang waktu itu?” tanyaku.
“Iya. Aku memang pulang. Tetapi aku hanya melihat ayahku dari kaca jendela rumah sakit. Aku tidak sanggup berada di dekatnya. Aku tidak sanggup melihat ayahku yang dulu begitu kekar berubah menjadi sangat kurus dan lemah. Saat pemakamannya, aku juga hanya melihat dari jauh. Aku tidak sanggup menahan rasa bersalahku sampai aku tidak sanggup bertemu ibu dan adikku,” Norman memainkan kaleng kosong di tangannya.
“Sekarang bagaimana?” aku memandang Norman.
“Aku memberanikan diri untuk pulang. Adikku mengusirku seketika. Aku pun pergi dan kembali ketika hanya ada ibu di rumah. Aku meminta maaf dan memintanya tinggal bersamaku karena adikku sebentar lagi akan menikah dan kemungkinan besar akan tinggal bersama suaminya di pulau seberang. Aku hanya berpikir, adikku akan sibuk mengurus keluarganya nanti jadi sekarang giliranku merawat ibuku. Lagipula, aku tidak mengurus hal lain selain pekerjaanku jadi aku memiliki lebih banyak waktu daripada adikku. Waktu ibuku menceritakan kedatanganku dan niatku padanya, dia langsung menyusul ke sini dan kamu lihat sendiri tadi,” Norman melemparkan kaleng di tangannya yang dengan mulus mendarat di tong sampah di sudut ruangan.
Aku menepuk punggungnya, “kamu anak berbakti.”
Norman memandangku, “kalau kamu ingin mengejekku, aku tidak terpengaruh. Kamu sudah tahu kalau aku ini anak yang tidak tahu diri, tidak peduli ketika keluarganya membutuhkan.”
“Lupakan masa lalu,” kataku. “Yang penting sekarang kamu sudah berubah dan akan terus berubah menjadi lebih baik.”
Omong-omong, apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu tidak terlalu lama meninggalkan rumah? Kalau orang tuamu membutuhkan bantuan bagaimana?” Norman mengerutkan kening.
“Ada adikku di rumah. Dia sedang libur jadi dia menyuruhku jalan-jalan,” aku meraih bantal yang dari tadi hanya bersandar di dinding lalu berbaring meluruskan punggung. “Kurasa aku akan tidur siang sejenak hari ini.”
“Kalau dipikir-pikir, kita bertiga memiliki masalah yang berhubungan dengan orang tua. Hanya berbeda kasusnya,” Norman menghela napas.
“Berbeda cara penyelesaian juga,” sahutku.
“Apakah Kana juga merindukan orang tuanya?” Norman tiba-tiba bergumam.
“Aku yakin dia juga memiliki rasa rindu. Dia hanya terlihat kuat di luar,” aku mencoba mengingat wajah Kana tetapi gagal karena Norman menepuk pipiku. Aku mengaduh.
“Jangan mendekati Kana. Kamu sudah memiliki tunangan. Yah, meskipun judulnya pernikahan yang tertunda, kalian masih memiliki ikatan pertunangan,” Norman berkata dengan nada yang sengaja dibuat terdengar mengancam tetapi sama sekali tidak terasa mengancam bagiku.
“Memangnya kamu siapanya Kana?” tanyaku.
“Aku penjaganya,” jawab Norman cepat.
“Mau sampai kapan kamu hanya menjadi seorang penjaga?”
Norman memanyunkan bibirnya.
“Kana tidak akan membuka hatinya sampai dia merasa hidupnya benar-benar teratur,” aku sengaja mengatakannya karena ingin mendengar reaksi Norman.
“Tidak ada satupun dari kita bertiga yang hidupnya teratur sekarang. Sebaiknya kita bekerja sama saja agar kita mampu melewati semua ini dengan baik. Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal lain selain mendapatkan maaf dari ibu dan adikku,” Norman menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Kita akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja,” aku memejamkan mata berniat tidur.


No comments:

Post a Comment