Wednesday, 7 November 2012

Terkenang, Terurai dalam Tiap Langkah

Gunung Kerinci, Kab Kerinci Prov Jambi
Aku menggigil duduk di samping tenda. Benar-benar pagi yang sangat dingin dan lelah. Aku mencoba menikmati suasana tapi selalu gagal. Aku malah teringat semua tentangmu sebelum melangkahkan kakiku sampai ke hampir puncak gunung Kerinci.

Merangin, 29 Desember 2010
--Rena, lagi sibuk ga?-- sms dari Mas Donny.
--Enggak--
--Kami mau ke Kerinci, naik gunung. Tiwi juga ikut, kamu ikut ga?--
--Kapan?--
--Ini aku dah berangkat--

Aku langsung berkemas, kali ini tak akan mundur apa pun alasannya. Izin orang tua sudah kukantongi, apalagi? Aku harus segera berangkat sebelum orang tuaku berubah pikiran.

Merangin, 30 Desember 2010
“Bro, Kerinci tu medannya gimana?” tanyaku pada Awan yang sudah dua kali mendaki gunung Kerinci.
“Merayap nanti tu, bawa sarung tangan yang banyak, jangan cuma satu,” pesan Awan. Pesan yang tak kuduga sebelumnya.
Jadilah, kusiapkan tiga pasang sarung tangan, tiga pasang kaos kaki, dua jaket dan perlengkapan logistik lainnnya. Kurapikan dalam tas gunung (carrier) pinjaman dari Mas Alfi, salah satu teman kantor.

Kerinci, 31 Desember 2010
22.00 WIB
Aku cukup kelelahan. Mbak Tiwi, Mas Donny dan teman-teman lain terus memberikan semangat. Kalau saja mereka tahu, pendakian ini kulakukan hanya untuk melarikan diri, mungkin mereka tak akan segencar itu menyemangati. Ya, memang ingin lari saja, membuang segala penat dan sakit hati.

Kerinci, 1 Januari 2011
00.00 WIB
Kembang api tahun baru dari Padang terlihat jelas dari ketinggian ini. Aku tak tahu ini ketinggian berapa, mungkin pertengahan sebelum puncak.
Kami memutuskan menyusun tenda dan istirahat malam ini. Besok pagi baru lanjut lagi menuju puncak, yang kunanti sejak tiga hari yang lalu. Aku berbaring dalam sleeping bag, mencoba tidur. Tapi pikiranku melayang, jauh ke belakang, singgah ke setiap memori secara acak-acakan.

“Sudahlah, sudah ditakdirkan jadi selir aku, ga usah nyangkal,” kata Awan.
Aku mencak-mencak tapi terasa lucu.

--halow renata..gmn dah sembuh?--
Sms dari Awan saat aku sakit.
--sudah, sudah bisa ketawa, sudah bisa gangguin orang--
--alhmdulillah..makanya jgn suka makan makanan mentah trus..*sok teu*--

--Mau pergi berdua aja sama Awan--
Sms Nora waktu aku sedang belanja bersama Indah.
“Sudah, ga usah dipikirin,” kata Indah seolah mengerti isi hatiku.

“Setiap perempuan kan terlahir cantik, ehem,” kata Awan di ujung telfon.
Aku tertawa.

“Ren, kakak mau ke Kerinci sama Awan, ada acara reuni sekalian jenguk Hera, teman yang sakit tu. Rena mau ikut ga?”
“Naik apa?”
“Motor. Jadi, nanti kalau Rena ikut, Rena bawa motor sendiri.”
Hatiku tiba-tiba sakit. Entah kenapa sampai sakit, aku menangis dalam pelukan Indah.

“Kakak suka kan sama Awan?” tanyaku pada Nora.
“Kok nanya gitu?”
“Kelihatan.”
“Iya ya? Kelihatan ya?” Nora tersenyum, “Awan.... kangeeennn....” teriaknya.
Lanjutlah, aku tak akan menghalangimu dekat dengan Awan, bisikku pada diriku sendiri.

Aku menghela napas.  ‘Selamat Tahun Baru, Rena, kamu berhasil sejauh ini, nanti di puncak, buanglah semua yang ingin kamu buang, jangan pernah bawa kembali lagi,’ kataku pada diri sendiri.

09.00 WIB
Dan sekarang aku menggigil, kaki gemetar karena kedinginan dan kelelahan. Aku menyesal tak melakukan pemanasan sedikitpun untuk pendakian ini. Aku terbaring dalam tenda dengan sisa-sisa tenaga. Sengaja kusimpan separuh tenaga untuk perjalanan pulang. Aku tak ikut sampai puncak, dengan begitu, aku gagal. Gagal sampai ke puncak, gagal membuang cerita sakit hatiku di puncak tertinggi pulau Sumatera ini.

Aku menangis dalam bus saat perjalanan pulang.

No comments:

Post a comment