Angin ini, wangi ini, bahkan panas pagi ini, sama seperti tiga tahun lalu. Masa yang telah kuhabiskan bersamamu, bersama angin yang sama dan wangi yang sama. Wangi segar.
“Sudah makan belum?”
“Hah, apa?” aku gelagapan mendengar pertanyaan yang bagiku sangat aneh.
“Sudah makan belum?” kamu mengulangi pertanyaanmu sambil memandangiku dengan senyummu yang bagiku juga terasa aneh.
“Oh, sudah,” jawabku.
“Mau makan lagi nggak?”
“Enggak, perut apa gentong?”
“Yah, kali aja udah lapar lagi, kita kan sudah jalan cukup jauh.”
“Baru berapa meter,”
“Tuh, ada bakso, mau nggak?” kamu menunjuk ke tukang bakso di depan toko bangunan.
“Enggak, masih kenyang.”
Pertanyaanmu masih berlanjut seputar makanan. Apa pun yang terlihat, pasti kamu akan menawarkannya padaku. Aku masih terus menolak. Aku memang kenyang. Dan kita baru semenit berkenalan, mana mungkin aku langsung menerima tawaran makan.
Aku pun baru pertama kali ditanyai ‘sudah makan belum?’. Belum pernah ada yang menanyakan hal seperti itu padaku. Bahkan oleh orang tuaku sekalipun. Mereka terlalu sibuk, yang orang-orang menyebutnya dengan berbisnis. Saat aku bangun tidur, makanan sudah tersaji. Terserah padaku mau makan atau tidak, toh tidak ada yang tahu. Orang tuaku baru pulang sesaat sebelum aku tidur. Pertemuan yang sangat singkat dan tidak sempat bertanya tentang keadaanku apalagi berbincang-bincang.
“Sudah makan belum?” pertanyaanmu lagi-lagi soal makan. Ini pertemuan yang ketiga kali dan pertanyaan pertama yang muncul pasti itu. Belakangan aku baru tahu kalau itulah yang disebut perhatian.
“Sudah.”
“Siap berangkat?” tanyamu lagi tetap dengan senyuman aneh. Belakangan aku juga baru tahu kalau itulah yang disebut ramah.
“Ya, siap.”