Masih teringat dulu, pertama kali bertemu denganmu. Aku begitu terkesan pada kalimat puitismu, membuatku begitu termangu.
Aku hanya diam memandangmu, menikmati kejujuranmu. Betapa indah mendengar setiap kata dari bibirmu.
Lalu dia datang, membuyarkan setiap detil perasaanku padamu. Merusak hamparan harapan yang kurajut satu demi satu.
Mereka mengambilmu dan aku hanya mampu terpaku. Menunduk, mengutuk tiap senti kepengecutanku.
Aku masih di sini, berharap mereka kembali, membawamu hadir, mengisi kekosongan hati, menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti.
Kalau kau tak pernah kembali, pada siapa harus kutitipkan perasaan ini.
Monday, 19 October 2009
Sunday, 18 October 2009
Masih Tetap Sama
Akhirnya, sampai juga pada bagian ini. Bagian yang sudah kita tahu sejak awal. Bagian yang seharusnya sudah kita persiapkan sebelumnya. Perpisahan.
Tapi apalah gunanya bertanya-tanya, apa, mengapa, bagaimana, sanggupkah, hidup tanpa kamu dan mereka? Tak akan mengubah segalanya.
Lagipula kita masih berada di bumi yang sama. Kita masih menginjak tanah yang sama. Kita masih menghirup udara yang sama.
Kita tetap dalam pelukan dingin yang sama. Kita tetap mendapat tamparan panas yang sama. Kita pun tetap dalam belaian angin yang sama.
Kita pun masih memandang bulan yang sama, seperti yang selalu kau ucapkan.
Tapi apalah gunanya bertanya-tanya, apa, mengapa, bagaimana, sanggupkah, hidup tanpa kamu dan mereka? Tak akan mengubah segalanya.
Lagipula kita masih berada di bumi yang sama. Kita masih menginjak tanah yang sama. Kita masih menghirup udara yang sama.
Kita tetap dalam pelukan dingin yang sama. Kita tetap mendapat tamparan panas yang sama. Kita pun tetap dalam belaian angin yang sama.
Kita pun masih memandang bulan yang sama, seperti yang selalu kau ucapkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)