Wednesday, 23 September 2009

Apa yang kaucari, anak muda?

Aku sedang duduk di teras masjid STIS, menikmati daun-daun kering berguguran diterpa angin. Mirip autumn leaves, pikirku. Tiba-tiba seorang bapak separuh baya duduk di sampingku.

"Jam berapa, Nak?" tanya bapak itu.
"Jam dua, Pak," jawabku.
"Lewat berapa?" tanya bapak itu lagi.
"Jam dua pas, Pak."
Bapak itu manggut-manggut.
"Mau ke mana, Pak?" tanyaku sok akrab. Sifatku yang ini memang sulit dihilangkan.
"Saya dari Pancoran, mau pulang. Mampir sholat dulu di sini. Rumah saya di Pasar Minggu," bapak itu rupanya menanggapi pertanyaanku. Meskipun aku bingung, kok dari Pancoran ke Pasar Minggu lewat Otista? Bisa ya? Ah, tak tahulah, aku juga tidak tahu Pancoran itu sebelah mana.
"Kuliah di sini, Nak?"
"Iya, pak. Tapi sudah lulus."
Bapak itu manggut-manggut. "Berarti langsung kerja?"
"Iya, Pak," bapak ini tahu juga tentang STIS.
"Sudah lulus kuliah, sudah kerja, terus rencananya apa lagi?"
Aduh, kok pertanyaannya rumit gini. Aku jadi bingung.
"Rencana? Apa ya, Pak? Kerja dulu mungkin, Pak," jawabku.
"Kita harus selalu punya rencana. Jangan sampai hidup hanya mengalir apa adanya. Dan yang penting niat kita. Apa yang kita cari harus dengan niat yang baik. Ingat, NIAT," bapak itu menekankan pada kata niat.
"Kuliah, kerja, cari uang. Sebenarnya apa sih, yang dicari? Kekayaan? Kemewahan? Kekuasaan?"
Aduh, jadi panjang begini nasihatnya.
"Nak, apa yang sebenarnya kaucari?" bapak itu menatapku.

Aku gelagapan. Apa yang kucari? Apa? Kalau kuliah ya untuk cari kerja. Kalau kerja ya untuk cari uang. Memangnya apa lagi? Tapi kalau ditanya seperti ini, mengapa aku bingung ya? Ada yang salah ya? Apa yang kucari sih?

"Pak," seorang pria muda menepuk pundak bapak itu. "Ayo," kata pria itu.
"Saya pulang dulu ya, Nak. Mumpung masih siang," bapak itu berdiri.
"Oh, iya, Pak," aku mengangguk meskipun penasaran setengah mati.
"Mari, Mbak," kata si Pria.
Aku tersenyum pada keduanya. Aku masih teringat pertanyaan bapak itu. Apa yang kucari? Entahlah, sebaiknya kusimpan pertanyaan ini untuk kutanyakan pada orang lain.

Jadi, apa sebenarnya yang kita cari?

Tuesday, 8 September 2009

Mengapa kita harus peka?!!

Ibuku pernah bilang, "sekesal dan sebenci apapun kamu pada seseorang, kamu harus tetap ramah. Karena kita hidup bermasyarakat. Kalau kamu tidak bisa menahan marah, kamu tidak akan punya teman."
Nasihat ini bisa kuterima, kucerna dan kupikirkan masak-masak. Untuk pengamalannya, aku diberi nilai 70 oleh beberapa temanku (lumayanlah). Kakakku dengan jujur memberi nilai 50 (tega banget ya). Sedangkan ibuku memberi nilai 0 (NOL) BESAR (lha??).

Tentu saja ibuku paling tahu soal ramah tamah dan sopan santun, selayaknya seseorang yang bergelar "Ibu". Jadi, beliau memberiku nilai 0 besar bukan tanpa alasan. Tentu saja dari beberapa kasus yang hampir membuatku menghancurkan muka orang (lebay dikiit) dan kasus yang membuatku sampai detik ini tidak mau menyapa orang yang pernah menyinggung perasaanku (yang ini sempat membuat keluargaku geleng-geleng kepala).

Bukannya aku tidak mau ramah atau tidak tahu sopan-santun atau apalah istilahnya. Aku hanya memiliki sedikit pandangan yang berbeda dari ibuku. Kalau ibuku menekankan untuk bersikap ramah, aku memilih untuk berkata sejujurnya. Aku akan bilang kalau aku tidak suka, tersinggung atau marah. Aku juga akan bilang kalau aku senang, merasa dihargai atau merasa sangat tertolong.
Bagiku, dengan mengatakan hal seperti; aku marah atau aku tersinggung, aku akan mencegah diriku untuk meluapkan amarah daripada tetap tersenyum dan pura-pura tidak tersinggung. Apalagi pada orang yang kurang peka pada perasaan orang lain.

Orang yang kurang peka tidak akan mampu membaca raut muka orang meskipun raut muka orang akan terlihat sangat jelas jika tersinggung dan marah. Orang yang kurang peka juga tidak akan mengerti bagaimana cara membaca raut muka orang kecuali mereka belajar dengan sangat keras (karena ini pelajaran yang sangat berat). Bahkan dengan mengatakan kalau aku tersinggung, orang yang kurang peka bisa menganggap ini sebagai sebuah kalimat biasa. Kejadian inilah yang membuat kasus 'aku tidak menyapa orang'.

Berbeda sekali dengan orang yang peka. Mereka akan tahu jika ada orang yang tidak setuju pada pendapatnya. Apalagi jika sampai ada yang tersinggung. Orang yang peka akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan bersikap karena mereka dapat dengan cepat menangkap perubahan raut muka seseorang. Dengan begini, interaksi akan berjalan dengan baik dan mengurangi "monopoli pembicaraan".

Beramah-tamah dengan orang yang kurang peka juga akan membuatnya merasa "dihormati", padahal hanya sekedar ramah-tamah. Sedangkan beramah-tamah dengan orang yang peka, akan membuatnya ramah juga dengan ramah yang sebenarnya karena mereka bisa memahami lawan bicaranya.

Jadi, daripada aku sibuk beramah-tamah pada orang yang tidak peka, lebih baik aku beramah-tamah pada orang peka yang memang benar-benar ramah.

NB: tulisan ini hanya pendapat, bukan mata kuliah. Ditulis dalam keadaan marah dan tergesa-gesa. Jadi, mungkin tidak memenuhi kaidah penulisan yang baik.